Laman

21 November 2012

MENGERTI DAN MENAFSIRKAN KITAB-KITAB SYAIR/PUISI


MENGERTI DAN MENAFSIRKAN KITAB-KITAB SYAIR/PUISI

oleh: Denny Teguh Sutandio


Jenis literatur Alkitab yang ketiga yang perlu kita selidiki secara singkat adalah puisi. Prof. Tremper Longman III, Ph.D. menggolongkan kitab Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung, dan Ratapan sebagai kitab-kitab puisi.[1] Sedangkan Prof. Andrew E. Hill, Ph.D. dan Prof. John H. Walton, Ph.D. mengategorikan Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, dan Kidung Agung sebagai kitab-kitab syair yang terdiri puisi Ibrani dan sastra hikmat.[2] Sedangkan Prof. Douglas Stuart, Ph.D. membedakan kitab Mazmur dan kitab-kitab kebijaksanaan, di mana yang termasuk kitab-kitab kebijaksanaan adalah: Pengkhotbah, Ayub, dan Amsal.[3]  Meskipun kitab-kitab kebijaksanaan juga mengandung unsur puitis di dalamnya, namun penulis akan membedakannya karena ada unsur-unsur
dalam kitab puisi yang tidak memiliki tujuan yang sama dengan kitab-kitab kebijaksanaan. Untuk kitab-kitab puisi/syair, kita akan mengkhususkan kitab Mazmur, meskipun tidak menutup kemungkinan membahas kitab Ayub, Amsal, dll yang   bersifat puitis. Apa saja ciri-ciri kitab-kitab puisi? Prof. Andrew E. Hill, Ph.D. dan Prof. John H. Walton, Ph.D. menjelaskan dua ciri khas puisi Ibrani, yaitu:[4] 

1.            Irama Bunyi
Irama bunyi adalah “pola yang tetap dari suku-suku kata yang
ditekan atau tidak ditekan dalam baris (atau bait) puisi Ibrani.” Ada 7 bentuk
puisi yang memiliki ciri irama bunyi:
a)           Akrostik
Akrostik berarti syair yang dimulai huruf pertama pada
baris-baris yang berurutan dari sebuah bait membentuk alfabet, kata, atau
frase. Bentuk akrostik ini dibuat untuk membantu menghafal. Ide di balik bentuk
ini adalah menyampaikan pesan yang berurutan, berkembang, dan sempurna. Di
dalam PL, ada 13 syair akrostik alfabet yang lengkap, yaitu: Mazmur 9 dan 10,
25, 34, 37, 111, 112, 119, 145; Amsal 31:10-31; Ratapan 1, 2, 3, 4.
Khusus Mazmur 119, pasal ini menarik. Di dalam pasal 119, ada
176 ayat di mana setiap 8 ayat dimulai dengan masing-masing huruf Ibrani yang
berjumlah 22.

b)           Aliterasi
Aliterasi yang termasuk unsur umum dalam syair PL ini
berbentuk “bunyi konsonan pada awal kata atau suku kata yang berurutan.”
Contohnya: Mazmur 122:6: ša´álû šülôm yürûšäläºim
yišläºyû ´öhábäºyik(=berdoalah untuk kesejahteraan Yerusalem).

c)            Asonansi
Asonansi adalah “irama bunyi yang menggunakan bunyi vokal
pada deretan kata, sering kali pada akhir kata-kata.” Fungsi bentuk ini adalah
untuk menekankan ide atau tema atau menetapkan suatu nada tertentu untuk sebuah
syair. Contoh: Mazmur 119:29: De|rek-šeqer häsër
mimmeºnnî wü|tôrätkä Honnëºnî(=Jauhkanlah jalan dusta dari padaku, dan karuniakanlah aku Taurat-Mu.)

d)           Paronomasia
Para penyair Ibrani kerap kali menggunakan bentuk paronomasia
atau permainan kata yang terdiri dari pengulangan kata-kata yang memiliki
kesamaan bunyi, tetapi tidak sama artinya. Tujuannya adalah untuk menambah
dampak dari pesan yang hendak disampaikan. Contoh: Amos 8:2; Kejadian 49:8; dan
Yesaya 5:7b. Khusus Yesaya 5:7b, perhatikan di bawah ini:
dinanti-Nya keadilan (mišPä†),
tetapi hanya ada kelaliman (miSPäH),
dinanti-Nya kebenaran (cdäqâ).
tetapi hanya ada keonaran (cü`äqâ)

e)            Onomatope
Bentuk onomatope berarti suatu penggunaan kata-kata yang
bunyinya mirip dengan apa yang digambarkannya tentang realitas di sekeliling
mereka. Contoh: penggunaan kata seru “celakalah” (´ôy) di
Yesaya 24:16, “guntur” (raº`am) di
Mazmur 81:8, “bergoncanglah bumi” (rä`亚) di
Mazmur 68:9, dan derap kaki kuda (Dahárôt Dahárôt) di
Hakim-hakim 5:22.

f)              Elips
Bentuk elips berarti suatu penghilangan suatu kata atau
kata-kata untuk menyempurnakan suatu susunan paralel tertentu. Hal ini yang
membedakan puisi dari prosa. Contoh: Mazmur 115, di mana “berhala-berhala
mereka” di ayat 5-7 tidak perlu disebutkan lagi, karena sudah disebutkan di
ayat 4.

g)             Inklusio
Bentuk inklusio adalah bentuk khusus pengulangan yang lazim
di mana kata-kata atau frase-frase penting penyair diulang kembali pada pokok
yang semula. Contoh: Mazmur 118 di ayat 29 merupakan pengulangan dari ayat 1, “Bersyukurlah
kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.”

2.             Irama Pikiran
Irama pikiran adalah “hal mengimbangkan gagasan-gagasan dalam
bentuk yang tersusun atau sistematis.” Ada 5 bentuknya:
a)            Paralelisme antitesis
Di dalam paralelisme antitesis, baris kedua menjelaskan baris
pertama dalam pasangan baris (kuplet), namun dengan nada negatif/sebaliknya.
Contoh: Mazmur 1:6:
sebab TUHAN mengenal jalan orang benar,
tetapi jalan
orang fasik menuju kebinasaan.

b)            Paralelisme kiastis
Di dalam paralelisme kiastis, dalam baris berurutan, frase
kedua menjelaskan frase pertama atau frase kedua merupakan kebalikan dari frase
pertama. Contoh: Mazmur 51:5, “Sebab aku sendiri sadar akan
pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku.”
dan Yesaya 11:13, “Efraim tidak akan cemburu lagi kepada
Yehuda, dan Yehuda tidak akan menyesakkan Efraim lagi.”

c)             Paralelisme emblematis
Di dalam paralelisme emblematis, baris pertama merupakan
suatu kiasan/metafora disusul dengan baris kedua yang menjelaskan arti dari
baris pertama (atau sebaliknya). Contoh:

Mazmur 103:13:
Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya,
demikian TUHAN
sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.

d)            Paralelisme sinonim
Di dalam paralelisme ini, baris kedua mengulang baris pertama
namun dengan kata-kata yang berbeda. Contoh: Mazmur 49:2:
Dengarlah,hai bangsa-bangsa
sekalian,
pasanglah
telinga,hai semua penduduk dunia,

e)             Paralelisme sintesis
Di dalam paralelisme jenis terakhir ini, baris kedua
melengkapi makna dari baris pertama. Contoh: Mazmur 29:1-2:
Kepada TUHAN, hai
penghuni sorgawi, kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan!
Berilah kepada
TUHAN kemuliaan nama-Nya, sujudlah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan!

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana kita menafsirkan
kitab-kitab puisi/syair ini?
1.             Pahamilah Kitab-kitab Puisi/Syair Sebagai Luapan Perasaan Penyair
Kepada Allah
Pertama-tama, kita harus mengerti bahwa Mazmur dan
kitab-kitab puisi lainnya bersifat puitis, sehingga perlakukan kitab-kitab
puisi sebagaimana puisi pada umumnya. Karena bersifat puitis, maka kitab-kitab
ini ditulis untuk menyentuh emosi dan membangkitkan perasaan.[5] Oleh karena
itu, hindari menafsirkan kitab-kitab puisi ini dengan:
a)           Menjadikannya doktrin/pengajaran
Meskipun bisa mengandung suatu pengajaran, hampir semua
kitab-kitab puisi bersifat puitis yang membangkitkan emosi, sehingga jangan
menafsirkan kitab-kitab puisi seperti kita menafsirkan surat-surat kiriman yang
menggunakan bahasa yang jelas dan langsung. Ketika kita membaca surat-surat
kiriman entah dari Paulus atau Petrus, kita mendapatkan penjelasan tentang
pengajaran dan aplikasi dari pengajaran yang ditekankan baik oleh Paulus maupun
Petrus, namun hal ini tidak bisa diterapkan ketika kita membaca dan menafsirkan
kitab-kitab puisi. Oleh karena itu, jangan menjadikan suatu puisi sebagai
doktrin kaku yang diterjemahkan secara harfiah.
Ambil contoh, beberapa orang dari gereja kontemporer
mengambil nats di Mazmur 149:1, “Haleluya! Nyanyikanlah bagi TUHAN
nyanyian baru!...” (bdk. 96:1; 98:1; 144:9), lalu mengajarkan bahwa kita harus
menciptakan puji-pujian baru. Yang lebih ekstrem, ada orang yang mengajarkan
bahwa kita perlu membuang semua puji-pujian yang lama karena Allah menghendaki
kita memuji Tuhan dengan nyanyian baru. Konteks tidak sedang mengajar kita
bahwa kita harus memuji Tuhan dengan lagu pujian yang baru. Mari perhatikan
salah satu contoh dari kutipan di atas: Mazmur 144:9. Konteks Mazmur 144 sedang
berbicara tentang ucapan syukur raja Daud kepada Allah dan ini tidak ada
hubungannya dengan mutlaknya memuji Tuhan dengan lagu pujian yang baru. Kedua,
yang lebih menarik, pengulangan “nyanyikanlah bagi Tuhan, nyanyian baru”
diulang minimal 5x di dalam kitab Mazmur dan logikanya, kalau sesuatu yang baru
namun sudah diulang 5x, maka hal yang baru itu sudah bukan merupakan hal yang
baru lagi, karena sesuatu yang baru merupakan sesuatu yang tidak diulang.
Dengan kata lain, prinsip ini akan melawan konsep mereka sendiri yang ngotot mengajarkan bahwa kita harus
memuji Tuhan dengan nyanyian baru.

b)           Menafsirkan satu kata lepas dari konteks puisi
Hal kedua yang harus kita hindari ketika menafsirkan
kitab-kitab puisi adalah menafsirkan satu kata dalam satu puisi lepas dari
konteks puisi secara keseluruhan. Prof. Douglas Stuart, Ph.D. memberikan contoh
tentang hal ini, yaitu di Mazmur 19:2-3,[6]
Langit
menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya;
hari meneruskan
berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam.
Kedua ayat ini merupakan suatu penggambaran raja Daud tentang
“Allah yang dinyatakan dalam ciptaan-Nya khususnya benda-benda angkasa.” Dengan
kata lain, dua ayat di atas memiliki satu inti pengajaran yang hendak
ditegaskan si penyair. Bagaimana kita mengetahui inti tersebut? Caranya adalah
bacalah kitab-kitab puisi dengan imajinasi puisi, sehingga kita dapat menangkap
inti dari makna yang hendak disampaikan si penyair. Jangan membaca kitab-kitab
puisi, lalu menafsirkan kata per kata dalam puisi dengan arti yang berbeda dari
inti makna yang hendak disampaikan si penyair. Misalnya dari Mazmur 19:2-3 di
atas, kita menafsirkan kata “langit” sebagai satu hal, lalu kata “cakrawala”
sebagai hal lain.

2.            Perhatikan Konteks/Latar Belakang Di Balik Syair/Puisi yang
Digubah
Hal kedua yang perlu kita perhatikan dalam menafsirkan
kitab-kitab puisi adalah kita harus memperhatikan konteks/latar belakang puisi
atau nyanyian yang digubah oleh pemazmur. Bagaimana kita mengetahui
konteks/latar belakang tersebut? Alkitab LAI kita memberikan catatan kaki ayat
referensi di beberapa pasal di Mazmur atau kadang ada keterangan di ayat 1 di
beberapa pasal tentang latar belakang digubahnya puisi atau nyanyian dari si
pemazmur.
Misalnya, Mazmur 3. LAI memberi judul Mazmur 3: “Nyanyian
pagi dalam menghadapi musuh.” Pertanyaan kita selanjutnya, musuh siapa yang
dimaksud? LAI memberikan keterangan ini di ayat 1, “Mazmur Daud, ketika ia lari
dari Absalom, anaknya”, lalu memberikan referensi dari 2 Samuel 15:13-17:22.
Contoh lain adalah Mazmur 18. LAI hanya memberi judul, “Nyanyian syukur Daud”,
nyanyian syukur untuk hal apa? LAI memberi keterangan di ayat 1, “Untuk pemimpin
biduan. Dari hamba TUHAN, yakni Daud yang menyampaikan perkataan nyanyian ini
kepada TUHAN, pada waktu TUHAN telah melepaskan dia dari cengkeraman semua
musuhnya dan dari tangan Saul.” Setelah itu, LAI memberikan catatan kaki referensinya yaitu
di 2 Samuel 22. Dengan dua contoh ini, kita belajar bahwa nyanyian atau puisi
gubahan si pemazmur pasti memiliki latar belakang atau alasan mengapa ia
menggubah nyanyian atau puisi tersebut. Alangkah bijaknya jika kita mempelajari
latar belakang tersebut sebelum kita membaca pasal-pasal dalam Mazmur, sehingga
kita tidak asal comot satu ayat dalam satu pasal, lalu menafsirkannya sesuai
kehendak kita masing-masing.


________________________________

[1]Tremper Longman III, “Kitab-kitab Puisi,” dalam IVP  Introduction to the Bible, ed. Philip Johnston, terj. Christian Nugroho (Bandung: Kalam Hidup, 2011), 157-184.
[2]Andrew E. Hill dan John H. Walton, Survei Perjanjian Lama,
cetakan ke-8 (Malang: Gandum Mas, 2008), vi.
[3]Gordon D. Fee dan Douglas Stuart,Hermeneutik: Bagaimana Menafsirkan Firman Tuhan dengan Tepat!, Cet. ke-10 (Malang: Gandum Mas, 2009), 196-239.
[4]Andrew E. Hill dan John H. Walton, Survei Perjanjian Lama, 407-411.
[5]Gordon D. Fee dan Douglas Stuart, Hermeneutik, 199. Prof. Tremper Longman III, Ph.D. memaparkan bahwa kitab Mazmur merupakan cermin bagi jiwa kita yang: memberi informasi kepada intelek kita, memperhalus emosi kita, dan memimpin kehendak kita. (Tremper Longman III, Bagaimana Menganalisa Kitab Mazmur, 89-102).
[6]Ibid., 198-199.